Negotiating Qur’anic Hermeneutics in Indonesia

A Comparative Analysis of Fahmi Salim and Sahiron Syamsuddin

Authors

  • Syauqi Ahmad Sahnon Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Malang, Indonesia
  • Harun Ar-Rosyid Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Malang, Indonesia
  • Fahrizi Alfarobi Muhammad International Islamic University, Islamabad, Pakistan
  • Samsul Ma'arif Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Malang, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.59001/pjrs.v5i2.1295

Keywords:

Fahmi Salim, hermeneutics, Islamic exegesis, Qur’anic interpretation, Sahiron Syamsuddin

Abstract

The use of hermeneutics in Qur’anic interpretation remains contested within contemporary Muslim scholarship, particularly regarding its epistemological compatibility with the Islamic exegetical tradition. This study examines the contrasting perspectives of Fahmi Salim and Sahiron Syamsuddin, two Indonesian Muslim scholars who articulate substantially different responses to Qur’anic hermeneutics. Rather than reducing their positions to acceptance and rejection, this study reconstructs the epistemological assumptions underlying their views concerning interpretive authority, the relationship between text and context, and the limits of interpretive plurality. Using a qualitative comparative approach based on their published works and relevant secondary literature, the study identifies two distinct orientations. Syamsuddin adopts an adaptive-integrative orientation, viewing hermeneutics as a methodological resource that can be critically integrated with ‘Ulūm al-Qur’ān, particularly through his ma‘nā-cum-maghzā approach. Salim adopts a critical-protective orientation, questioning the legitimacy and methodological necessity of hermeneutics because of its distinct epistemological foundations. Despite their divergence, both affirm methodological rigor and fidelity to the Islamic exegetical tradition. The study argues that their disagreement reflects a broader tension in contemporary Indonesian Qur’anic studies between preserving epistemological continuity with the inherited tradition and expanding methodological boundaries through engagement with modern thought. By reframing the debate beyond a binary acceptance–rejection model, the study offers a more nuanced understanding of how interpretive authority and methodological legitimacy are negotiated in contemporary Indonesian Qur’anic scholarship.

Penggunaan hermeneutika dalam penafsiran Al-Qur’an masih menjadi perdebatan dalam studi Islam kontemporer, khususnya mengenai kesesuaian epistemologisnya dengan tradisi tafsir Islam. Penelitian ini mengkaji pandangan yang bertolak belakang dari Fahmi Salim dan Sahiron Syamsuddin, dua akademisi Muslim Indonesia yang merumuskan respons yang sangat berbeda terhadap hermeneutika Al-Qur’an. Daripada mereduksi posisi keduanya sekadar pada penyimpulan "menerima" atau "menolak", penelitian ini merekonstruksi asumsi-asumsi epistemologis yang melandasi pandangan mereka mengenai otoritas penafsiran, hubungan antara teks dan konteks, serta batas-batas pluralitas penafsiran. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-komparatif berdasarkan karya-karya terpublikasi mereka serta literatur sekunder yang relevan, penelitian ini mengidentifikasi dua orientasi yang khas. Syamsuddin mengadopsi orientasi adaptif-integratif, yang memandang hermeneutika sebagai sumber daya metodologis yang dapat diintegrasikan secara kritis dengan ‘Ulūm al-Qur’ān, khususnya melalui pendekatan ma‘nā-cum-maghzā. Sebaliknya, Salim mengadopsi orientasi kritis-protektif, yang mempertanyakan legitimasi dan urgensi metodologis hermeneutika karena landasan epistemologisnya yang berbeda. Di balik perbedaan tersebut, kedua tokoh sama-sama menegaskan pentingnya ketatnya metodologi (methodological rigor) dan kesetiaan terhadap tradisi tafsir Islam. Penelitian ini berargumen bahwa perbedaan pendapat mereka merefleksikan ketegangan yang lebih luas dalam studi Al-Qur'an kontemporer di Indonesia antara menjaga keberlanjutan epistemologis dengan tradisi yang diwarisi, dan memperluas batas-batas metodologis melalui perjumpaan dengan pemikiran modern. Dengan membingkai ulang perdebatan ini di luar model biner "menerima–menolak", penelitian ini menawarkan pemahaman yang lebih bernuansa mengenai bagaimana otoritas penafsiran dan legitimasi metodologis dinegosiasikan dalam studi Al-Qur’an kontemporer di Indonesia.

References

Al Faritzi, M. R., & Ramadhan, R. A. (2025). Hermeneutika dalam studi Al-Qur'an: Studi kritis hermeneutika sebagai metode tafsir Al-Qur'an. Mustaneer: Journal of Islamic Thought and Civilization, 1(2). https://doi.org/10.61630/mjitc.v1i2.12

Arrasyid, A. R., Nawawi, A. M., & Rofiah, N. (2024). Kontroversi hermeneutika Al-Qur’an sebagai metodologi menafsirkan Al-Qur’an. Blantika: Multidisciplinary Journal, 2(5). https://doi.org/10.57096/blantika.v2i5.143

Gunawan, I. (2013). Metode penelitian kualitatif: Teori dan praktik (Suryani, Ed.). Jakarta: Bumi Aksara.

Haitomi, F. (2020). Menimbang hermeneutika sebagai mitra tafsir. Nun: Jurnal Studi Alquran dan Tafsir di Nusantara, 5(2), 45–69. https://doi.org/10.32495/nun.v5i2.90

HS, M. A. (2021, March 27). Mengenal Sahiron Syamsuddin, pelopor kajian hermeneutika tafsir di Indonesia. Tafsir Al-Quran | Referensi Tafsir di Indonesia. Diambil dari https://tafsiralquran.id/mengenal-sahiron-syamsuddin-pelopor-hermeneutika-tafsir-di-indonesia/

Husaini, A., & Al Baghdadi, A. (2007). Hermeneutika dan tafsir Al-Qur’an. Jakarta: Gema Insani Press.

Ibrahim, A. M., & Bela, F. A. (2023). Tafsir maqashidi perspektif Abdul Mustaqim. Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (JIQTA), 2(2), 127–137. https://doi.org/10.36769/jiqta.v2i2.438

Iffah, F. Y. I., & Kholid, A. (2025). Two initiatives of Qur’anic methodological interpretation in contemporary Indonesia: A study of tafsir maqasidi and ma'na-cum-maghza. Hermeneutik: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, 19(2), 329–349. https://doi.org/10.21043/hermeneutik.v19i2.28446

Khilmiyah, A. (2016). Metode penelitian kualitatif. Yogyakarta: Samudra Biru.

Mabrur, H., & Abas, S. (2023). Hermeneutik sebagai tawaran metodologis dalam menafsirkan Al-Quran yang diperdebatkan. SETYAKI: Jurnal Studi Keagamaan Islam, 1(1), 78–89. https://doi.org/10.59966/setyaki.v1i1.251

Maimun, A. (2015). Resistensi terhadap hermeneutika dalam kajian Al-Qur’an di Indonesia (Pemetaan varian dan kepentingan). SUHUF, 8(2), 233–260. https://doi.org/10.22548/shf.v8i2.8

Mannheim, K. (1936). Ideology and utopia: An introduction to the sociology of knowledge (L. Wirth & E. Shils, Trans.). New York, NY: Harcourt, Brace & World.

Mustaqim, A. (2010). Epistemologi tafsir kontemporer. Yogyakarta: LKiS.

Ramadhan, R. B. (2020). Pro-kontra penggunaan metodologi hermeneutik dalam penafsiran Al-Qur’ān. AQWAL: Journal of Qur'an and Hadis Studies, 1(1), 29–41. https://doi.org/10.28918/aqwal.v1i1.3517

Rasyidah. (2017). Hermeneutika Gadamer dan implikasinya terhadap pemahaman kontemporer Al-Qur’an. Religia, 14(2). https://doi.org/10.28918/religia.v14i2.90

Rasuki. (2021). Mengenal hermeneutical theory sebagai metode memahami teks secara obyektif. Kariman: Jurnal Pendidikan Keislaman, 9(1), 105–106. https://doi.org/10.52185/kariman.v9i1.173

Razi, F. (2024). Tinjauan kritis terhadap konsep al-ashil dan al-dakhil. Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (JIQTA), 3(2), 152–166. https://doi.org/10.36769/jiqta.v3i2.483

Reflita. (2016). Kontroversi hermeneutika sebagai manhaj tafsir (Menimbang penggunaan hermeneutika dalam penafsiran Al-Qur’an). Jurnal Ushuluddin, 24(2), 135–149. https://doi.org/10.24014/jush.v24i2.1625

Rokim, S., & Triana, R. (2021). Tafsir maudhui: Asas dan langkah penelitian tafsir tematik. Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, 6(2), 409–424. https://doi.org/10.30868/at.v6i02.2057

Salim, F. (2010). Kritik terhadap studi Al-Qur'an kaum liberal. Jakarta: Perspektif.

Setiawan, A. (2018). Hermeneutika Al-Qur’an “Mazhab Yogya” (Telaah atas teori ma‘na-cum-maghza dalam penafsiran Al-Qur’an). Jurnal Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an dan Hadis, 17(1), 67–94. https://doi.org/10.14421/qh.2016.1701-04

Susanto, E. (2016). Studi hermeneutika: Kajian pengantar. Jakarta: Kencana.

Syamsuddin, S. (2017). Hermeneutika dan pengembangan Ulumul Qur'an (N. Anjala, Ed.). Yogyakarta: Pesantren Nawasea Press.

Syamsuddin, S. (2021). Differing responses to Western hermeneutics: A comparative critical study of M. Quraish Shihab’s and Muḥammad ‘Imāra’s thoughts. Al-Jami‘ah: Journal of Islamic Studies, 59(2), 479–512. https://doi.org/10.14421/ajis.2021.592.479-512

Syamsuddin, S. (2022). Pendekatan maʿnā-cum-maghzā: Paradigma, prinsip, dan metode penafsiran. Nun: Jurnal Studi Alquran dan Tafsir di Nusantara, 8(2), 217–240. https://doi.org/10.32495/nun.v8i2.428

Zahrani, H., & Rubini. (2023). Pendekatan hermeneutika dalam pengkajian Islam. SALIHA: Jurnal Pendidikan Islam, 6(2), 171–196. https://doi.org/10.54396/saliha.v6i2.662

Downloads

Published

14-08-2026

Issue

Section

Articles