Women's Higher Education in Rural Areas

Family Perceptions, Socio-Cultural and Economic Barriers, and Access Support

Authors

  • Sandra Ginawangi Nasution Universitas PGRI Banyuwangi, Banyuwangi, Indonesia
  • Moch. Fasihuddin Al Hafidi Universitas PGRI Banyuwangi, Banyuwangi, Indonesia
  • Aris Risnandar Universitas PGRI Banyuwangi, Banyuwangi, Indonesia
  • Wahyui Yuha Universitas PGRI Banyuwangi, Banyuwangi, Indonesia
  • Intan Amelia Putri Universitas PGRI Banyuwangi, Banyuwangi, Indonesia
  • Siti Sivaul Jannah Universitas PGRI Banyuwangi, Banyuwangi, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.59001/pjier.v4i2.1332

Keywords:

Community perception, higher education, women, Tamansari Village, educational equality.

Abstract

Higher education is a vital instrument for women’s empowerment and independence; however, access for rural women remains constrained by complex structural and cultural barriers. This study aims to analyze how the community of Tamansari Village, Banyuwangi, perceives the importance of higher education for women; examine the interplay among social norms, economic limitations, and family backgrounds in shaping educational aspirations and access opportunities; and evaluate the role of scholarship support as an enabling factor. Employing a descriptive qualitative approach, data were gathered through in-depth interviews, observations, and documentation involving parents, rural women, and community figures. The findings reveal an ambivalent community perception. On the one hand, a positive perspective views educated women as the primary educators (madrasah utama) within the family and agents of economic self-reliance. On the other hand, skepticism persists due to patriarchal norms, gender-biased family resource allocation, and the perceived high cost of higher education. Nevertheless, low parental educational attainment does not dampen aspirations but rather acts as a catalyst for intergenerational mobility. The availability of scholarships serves as a critical game-changer that not only alleviates financial burdens but also actively reconstructs collective social norms. This study concludes that targeted financial interventions combined with familial support can effectively bridge the gap between educational aspirations and actual access for women in rural communities.

Pendidikan tinggi merupakan instrumen penting bagi pembebasan dan kemandirian perempuan, namun akses perempuan di pedesaan masih menghadapi hambatan struktural dan kultural yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana masyarakat Desa Tamansari, Banyuwangi, memaknai pentingnya pendidikan tinggi bagi perempuan; mengurai interaksi antara norma sosial, keterbatasan ekonomi, dan latar belakang keluarga dalam membentuk aspirasi serta peluang akses; serta mengevaluasi peran dukungan beasiswa sebagai faktor pemungkin (enabler). Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap orang tua, perempuan desa, dan tokoh masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemaknaan masyarakat bersifat ambivalen. Di satu sisi, timbul persepsi positif yang memandang perempuan terdidik sebagai madrasah utama dan agen kemandirian ekonomi; di sisi lain, muncul keraguan akibat norma patriarki, bias gender alokasi keluarga, dan anggapan biaya perkuliahan yang mahal. Meskipun demikian, latar belakang pendidikan orang tua yang rendah tidak memadamkan aspirasi, melainkan menjadi pemicu dorongan antargenerasi. Hadirnya program beasiswa terbukti menjadi pengubah pandangan (game changer) yang tidak hanya mereduksi beban finansial keluarga, tetapi juga merekonstruksi norma sosial kolektif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa intervensi finansial yang terarah dan dukungan moral keluarga mampu menjembatani celah antara aspirasi pendidikan dan realisasi akses nyata bagi perempuan di pedesaan.

References

Annisa, N., Bariah, O., & Sitika, A. J. (2022). Persepsi masyarakat terhadap pentingnya pendidikan tinggi untuk kaum perempuan. ISLAMIKA, 4(4), 2183. Diunduh dari https://ejournal.stitpn.ac.id/index.php/islamika/article/view/2183

Binasdevi, M. (2021). Ketidaksetaraan gender dalam buku tematik 2013 perspektif semiotika Pierce. Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, 3(1), 132–142. https://doi.org/10.24235/equalita.v3i1.8738

Chandramohan, S., Salinger, A. P., Wendt, A. S., Waid, J. L., Kalam, M. A., Delea, M. G., … Sinharoy, S. (2023). Diagnosing norms and norm change in rural Bangladesh: An exploration of gendered social norms and women’s empowerment. BMC Public Health, 23(1), 2337. https://doi.org/10.1186/s12889-023-17213-2

Dulkiah, M., Simon, J. C., Widoyo, H., Brontowiyono, W., Ruhana, F., & Sacipto, R. (2023). Community participation forms in Indonesian villages to support the Sustainable Development Goals program. Journal of Law and Sustainable Development, 11(11), e2061. https://doi.org/10.55908/sdgs.v11i11.2061

Engineer, A. A. (2008). The rights of women in Islam. New Delhi: Sterling Publishers Pvt. Ltd.

Firdaus. (2025). Subordinasi dan marginalisasi perempuan dalam akses pendidikan tinggi di pedesaan: Studi komparatif di Kabupaten Gowa. Sosioreligius: Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama, 10(1), 66–84. https://doi.org/10.24252/sosioreligius.v10i1.58504

Halizah, L. R., & Faralita, E. (2023). Budaya patriarki dan kesetaraan gender. Wasaka Hukum, 11(1), 19–32.

Handayani, W. (2018). Diskriminasi gender dalam pendidikan. Muwazah, 10(2), 198–224. https://doi.org/10.28918/muwazah.v10i2.9910

K, N., & Chotai, N. A. (2025). The role of higher education in women’s empowerment: A review of literature. Journal of Informatics Education and Research, 5(1). https://doi.org/10.52783/jier.v5i1.2358

Kohli, A., Shaw, B., Guntzberger, M., Aubel, J., Coulibaly, M., & Igras, S. (2021). Transforming social norms to improve girl-child health and well-being: A realist evaluation of the Girls’ Holistic Development program in rural Senegal. Reproductive Health, 18(1), 243. https://doi.org/10.1186/s12978-021-01295-5

Kurniawati, Y., & Hayati, N. (2025). Persepsi masyarakat terhadap pentingnya pendidikan tinggi bagi kaum perempuan di Desa Blabak Kecamatan Kandat Kediri. Naluri Edukasi: Jurnal Pendidikan, 2(2), 87–97. https://doi.org/10.64924/nh5jsh59

Kuteesa, K. N., Akpuokwe, C. U., & Udeh, C. A. (2024). Gender equity in education: Addressing challenges and promoting opportunities for social empowerment. International Journal of Applied Research in Social Sciences, 6(4), 631–641. https://doi.org/10.51594/ijarss.v6i4.1034

Lisnasari, A. (2023). Pendidikan bagi perempuan di pedesaan masih sangat rendah dan timpang—Bagaimana solusinya? https://doi.org/10.64628/AAN.kvsxm9n5q

Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldana, J. (2013). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.

MPRRI, S. J. (2025, 15 April). Lestari Moerdijat: Dorong peningkatan akses pendidikan bagi perempuan. Diunduh dari https://mpr.go.id/berita/Lestari-Moerdijat:-Dorong-Peningkatan-Akses-Pendidikan-Bagi-Perempuan?lang=id

Multazami, M., Ramadhani, K., & Thobroni, A. Y. (2025). Konsep pendidikan perempuan perspektif Al-Qur’an-Hadits dan kaitannya dengan pandangan para tokoh Islam dalam mendidik anak perempuan. Jurnal IHSAN: Jurnal Pendidikan Islam, 3(3), 703–715. https://doi.org/10.61104/ihsan.v3i3.1442

Nengyanti, N., Saptawan, A. S., Imania, K. I., Permatasari, I., Wulandari, P. U., Adventy, M. I. Y., … Yanti, M. (2025). Gender equality in achieving inclusive education in elementary school and junior high school. The Journal of Society and Media, 9(1), 260–282. https://doi.org/10.26740/jsm.v9n1.p260-282

Normala, & Zulaikha, S. (2025). Urgensi pendidikan tinggi dalam perspektif perempuan di Desa Anjir Pasar Lama Kabupaten Barito Kuala. Huma: Jurnal Sosiologi, 4(2), 205–215. https://doi.org/10.20527/h-js.v4i2.384

Nuryatno, M. A. (2007). Examining Asghar Ali Engineer’s Qur’anic interpretation of women in Islam. Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies, 45(2), 389–414. https://doi.org/10.14421/ajis.2007.452.389-414

Rahmayani, M. (2021). Persepsi masyarakat terhadap pentingnya pendidikan tinggi untuk kaum perempuan. Jurnal Sosial dan Sains, 1(9), 1031–1038. https://doi.org/10.59188/jurnalsosains.v1i9.169

Sadriani, A., & Arifin, I. (2025). Pendidikan anak perempuan di komunitas nelayan Kepulauan Saugi, Kabupaten Pangkep: Antara tradisi dan harapan. Equilibrium: Jurnal Pendidikan, 13(3), 414–425. https://doi.org/10.26618/0shafe83

Salsabila, U. H. (2018). Teori ekologi Bronfenbrenner sebagai sebuah pendekatan dalam pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam. Al-Manar: Jurnal Komunikasi dan Pendidikan Islam, 7(1), 139–158.

Siregar, A. I. P., Pohan, A., & Nasution, A. (2025). Perkembangan pendidikan perempuan dalam perspektif Islam; Pandangan Islam tentang pendidikan perempuan dari masa klasik hingga modern. Al-Muhajirin: Jurnal Pendidikan Islam, 2(1). https://doi.org/10.63911/h8zacg74

Sugiyono. (2021). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D (Cet. 3). Bandung: Alfabeta.

Wang, S. X., Cheatham-Hemphill, L., & Harrington, M. A. (2025). Testing a parent support intervention to improve success of first year students at a historically-Black University (HBCU). Frontiers in Education, 10, 1584908. https://doi.org/10.3389/feduc.2025.1584908

Yuliawati, Y., Asnamawati, L., Herawati, I. E., Resti, S. N. E., & Nurmalia, A. (2023). Kajian teori modernisasi: Komunikasi pendidikan untuk pembelajaran mandiri di era revolusi industri. Journal on Teacher Education, 5(2), 309–320. https://doi.org/10.31004/jote.v5i2.21930

Yunani, Roni, A., & Supatmi. (2022). Pengaruh tingkat pendidikan orang tua terhadap motivasi belajar siswa di MTs Nurul Qodiri Lampung Tengah. UNISAN Jurnal, 1(1), 479–490.

Ziana, U., Aminuyati, A., & Khosmas, F. Y. (2019). Analisis faktor ekonomi penyebab anak putus sekolah jenjang pendidikan menengah di Desa Teluk Kembang. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa (JPPK), 8(11). https://doi.org/10.26418/jppk.v8i11.37074

Downloads

Published

08-09-2026

Issue

Section

Articles