Sakralitas, Komoditas, dan Konflik: Perdagangan Cendana dan Penyebaran Agama-Agama di Nusa Tenggara Timur

Authors

  • Maulidia Dhuryati Piala Bora Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia
  • Najamudin M . Lobang Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.59001/pjrs.v5i1.771

Keywords:

sakralitas, komoditas, perdagangan cendana, konflik struktural, penyebaran agama

Abstract

This study examines the intersection of sacredness, commodity value, and conflict in the sandalwood trade and its influence on the spread of Islam, Catholicism, and Protestantism in East Nusa Tenggara (NTT). Historically regarded as a sacred material in local traditions and global religious practices, sandalwood became a highly valued commodity in Asian and European trade networks from the tenth to the seventeenth century. The fusion of ritual significance and economic value generated contestation among local elites, Muslim traders, and colonial powers such as the Portuguese and the Dutch, each seeking control over this strategic resource. Previous studies largely emphasize political-economic aspects, while research on the role of sandalwood in shaping religious dynamics remains limited. Using a qualitative-historical approach and Johan Galtung’s theoretical framework, this study analyzes forms of structural and cultural violence, as well as the competing interests embedded in the sandalwood trade. The findings indicate that sandalwood facilitated the entry and growth of Islam through commercial interactions, while the spread of Catholicism and Protestantism was strengthened by colonial political agendas. This study argues that the commodification of sandalwood not only structured economic and political relations but also significantly influenced patterns of social interaction and religious transformation in NTT.

Penelitian ini mengkaji hubungan antara sakralitas, komoditas, dan konflik dalam perdagangan cendana serta pengaruhnya terhadap penyebaran Islam, Katolik, dan Protestan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Cendana, yang secara historis memiliki nilai ritual dalam tradisi lokal dan agama-agama dunia, sejak abad ke-10 hingga ke-17 berkembang menjadi komoditas yang sangat bernilai dalam jaringan perdagangan Asia dan Eropa. Perpaduan nilai sakral dan ekonomi ini memicu kontestasi antara elit lokal, pedagang Muslim, serta kekuatan kolonial Portugis dan Belanda yang berupaya menguasai sumber daya strategis tersebut. Penelitian terdahulu umumnya berfokus pada aspek ekonomi-politik, sedangkan kajian mengenai peran cendana dalam dinamika keagamaan masih terbatas. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-historis dan kerangka teori Johan Galtung, penelitian ini menganalisis bentuk kekerasan struktural dan kultural serta kontradiksi kepentingan yang muncul dari penguasaan cendana. Temuan penelitian menunjukkan bahwa perdagangan cendana menjadi medium penting dalam masuk dan berkembangnya Islam melalui hubungan dagang, sementara penyebaran Katolik dan Protestan diperkuat oleh dukungan politik kolonial. Studi ini menegaskan bahwa komodifikasi cendana tidak hanya membentuk struktur ekonomi-politik, tetapi juga memengaruhi pola interaksi dan transformasi keagamaan di NTT.

References

Agung Rahardjo, S. S., Awang, S. A., & Pramusinto, A. (2013). Sejarah dominasi negara dalam pengelolaan cendana di Nusa Tenggara Timur. Jurnal Manusia dan Lingkungan, 20(1), 1–10. https://jurnal.ugm.ac.id/JML/article/view/18469

Eoffrey, G. C. G. (2016). Perdagangan kayu cendana Timor–Makau dan penemuan Asia atas Tanah Selatan Besar. Dalam Prosiding Sejarah Maritim Asia Tenggara (hlm. 125–148).

Fox, J. J. (1977). Harvest of the palm: Ecological change in eastern Indonesia. Harvard University Press.

Galtung, J. (2000). Searching for peace: The road to conflict transcendence in the twenty-first century. Pluto Press.

Galtung, J. (2015). World politics of peace and war: Geopolitics in another key: Geography and civilization. Hampton Press.

Hägerdal, H. (2012). Lords of the land, lords of the sea: Conflict and adaptation in early colonial Timor, 1600–1800. KITLV Press.

Intan, B. F. (2015). Misi Kristen di Indonesia: Kesaksian Kristen Protestan. Societas Dei, 2(2), 325–365. https://doi.org/10.33550/sd.v2i2.21

Logo, B., Laga, Y., & Benu, F. (2022). Budaya lokal dan resolusi konflik di Nusa Tenggara Timur. Jurnal Antropologi Indonesia, 43(1), 55–72.

Marisa, M. (2021). Inovasi kurikulum “Merdeka Belajar” di era Society 5.0. Santhet: Jurnal Sejarah, Pendidikan, dan Humaniora, 5(1), 72–81.

Mohamad, R. B., Ahmad, N., & Yusof, M. (2021). Religious pluralism and social harmony in Southeast Asia. Journal of Islamic Studies, 32(1), 85–104.

Nafsiyah, F., Rahman, A., & Hidayat, M. (2025). The integration of aqidah, morals, and sufism in Islamic education. IJoASER, 8(2), 429–436. https://doi.org/10.33648/ijoaser.v8i2.1044

Ngarsih, W. (2019). Pengaruh perdagangan cendana terhadap multikulturalisme di Solor pada abad X–XVI. FACTUM: Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah, 8(2), 247–260. https://doi.org/10.17509/factum.v8i2.22151

Nordholt, H. G. S. (1971). The political system of the Atoni of Timor. Martinus Nijhoff.

Prayogi, A., Rahman, F., & Sari, D. (2024). Cultural peacebuilding in Eastern Indonesia. Journal of Peace Studies, 12(1), 23–40.

Reid, A. (2014). Asia Tenggara dalam kurun niaga 1450–1680 Jilid I: Tanah di bawah angin. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Reid, A. (2014). Asia Tenggara dalam kurun niaga 1450–1680 Jilid II: Jaringan perdagangan global. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Rongcai, R. E. N., Guoxiong, W. U., & Ming, C. A. I. (1989). Tanakh (The Holy Bible: Old Testament). National Council of Churches of Christ in the USA.

Sandeep, & Manohara, T. N. (2019). Sandalwood in India: Historical and cultural significance of Santalum album L. as a basis for its conservation. NeBIO: An International Journal of Environment and Biodiversity, 10(4), 235–242.

Sandole, D. J. D., Byrne, S., Sandole-Staroste, I., & Senehi, J. (2008). Handbook of conflict analysis and resolution. Routledge.

Sidemen, P. (2019). Perangkat pemujaan sulinggih (Saiwa, Baudha, Bhujangga, Waisnawa). UNHI Press.

Sritimuryati, S., & Suryaningsi, T. (2021). Maritime trade in Makassar in the XVI–XVII century. Walasuji: Jurnal Sejarah dan Budaya, 12(2), 145–160.

Sumerata, I. W., Sutaba, I. M., & Ardika, I. W. (2022). Peran pelabuhan kuno di Flores Timur dalam jalur perdagangan Nusantara pada abad XVI–XVII. Purbawidya: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi, 11(1), 1–16. https://doi.org/10.55981/purbawidya.2022.69

Syafiera, A. (2016). Perdagangan di Nusantara abad ke-16. Jurnal Pendidikan Sejarah, 4(3), 721–735.

Webel, C., & Galtung, J. (Eds.). (2007). Handbook of peace and conflict studies. Routledge.

Widari, N. N. S., Putra, I. B. R., & Sudiarta, I. N. (2021). Sakralitas dan simbolisme dalam tekstil tradisional Bali. Jurnal Kajian Budaya, 16(2), 145–160.

Downloads

Published

19-01-2026

Issue

Section

Articles