The Implementation Gap in Halal Slaughterhouse Certification in Indonesia
A Case Study of Batu City
DOI:
https://doi.org/10.59001/pjls.v5i1.1296Keywords:
halal certification, implementation gap, maslahah mursalah, slaughterhouses, Soerjono SoekantoAbstract
BPJPH Decree No. 77 of 2023 serves as a technical regulation to accelerate halal certification for ruminant and poultry slaughterhouses under Law No. 33 of 2014 in Indonesia. In practice, however, a significant implementation gap remains at the local level. This study aims to analyze the implementation gap of BPJPH Decree No. 77 of 2023 through the lens of Soerjono Soekanto's theory of legal effectiveness and the perspective of maslahah mursalah, using Batu City, East Java as an empirical case study. Employing a qualitative empirical legal research method, data were gathered through semi-structured interviews with slaughterhouse operators and documentation studies. The findings indicate that while the decree possesses strong normative legal substance oriented toward public welfare (maslahah), its empirical execution remains suboptimal. Most poultry slaughterhouses (RPU) remain uncertified due to structural barriers, including operators' limited technical understanding, restricted access to information, facility limitations, and high certified Halal Slaughterer (Juleha) training costs. Framed by Soerjono Soekanto's framework, this gap highlights a friction between rigid legal mandates and the socio-economic capacity of small-scale operators. From a maslahah mursalah perspective, although the policy aims to protect halal integrity and consumer trust, these benefits are undermined when compliance burdens (mafsadah) disproportionately affect small-scale businesses. This study concludes that bridging the implementation gap requires moving beyond administrative mandates toward adaptive governance, affordable competency training, and differentiated support mechanisms for local slaughterhouse operators.
Keputusan BPJPH Nomor 77 Tahun 2023 berfungsi sebagai regulasi teknis untuk mempercepat sertifikasi halal bagi rumah potong hewan (RPH) dan rumah potong unggas (RPU) di bawah Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 di Indonesia. Namun dalam praktiknya, kesenjangan implementasi (implementation gap) yang signifikan masih terjadi di tingkat lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesenjangan implementasi Keputusan BPJPH Nomor 77 Tahun 2023 melalui teori efektivitas hukum Soerjono Soekanto dan perspektif maslahah mursalah, dengan menggunakan Kota Batu, Jawa Timur sebagai studi kasus empiris. Dengan menerapkan metode penelitian hukum empiris kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dengan pelaku usaha RPH/RPU dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun regulasi tersebut memiliki substansi hukum normatif yang kuat dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat (maslahah), pelaksanaan empirisnya di lapangan masih belum optimal. Sebagian besar RPU masih belum bersertifikat akibat hambatan struktural, termasuk terbatasnya pemahaman teknis pelaku usaha, akses informasi yang terbatas, kendala fasilitas, serta tingginya biaya pelatihan Juru Sembelih Halal (Juleha) bersertifikat. Berdasarkan kerangka Teori Soerjono Soekanto, kesenjangan ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara tuntutan regulasi yang kaku dengan kapasitas sosio-ekonomi pelaku usaha skala kecil. Dari perspektif maslahah mursalah, meskipun kebijakan ini bertujuan untuk melindungi integritas halal dan kepercayaan konsumen, manfaat tersebut menjadi kurang optimal ketika beban kepatuhan (mafsadah) sangat memberatkan bisnis skala kecil. Penelitian ini menyimpulkan bahwa untuk memperkecil kesenjangan implementasi, pemerintah perlu beralih dari sekadar mandat administratif menuju tata kelola yang adaptif, pelatihan kompetensi yang terjangkau, serta mekanisme dukungan berdiferensiasi bagi pelaku usaha RPH/RPU lokal.
References
Andreyan. (2024, January 5). Aturan baru, mulai Oktober 2024 juru sembelih pun harus bersertifikat halal. Radar Tuban Jawa Pos. https://radartuban.jawapos.com/daerah/863698077/aturan-baru-mulai-oktober-2024-juru-sembelih-pun-harus-bersertifikat-halal
Arifin, H. (2023). Analisis sistem sertifikasi halal kategori self declare. SINOMIKA Journal: Publikasi Ilmiah Bidang Ekonomi dan Akuntansi, 1(5), 1173–1180. https://doi.org/10.54443/sinomika.v1i5.592
Ariny, B. D., & Nurhasanah. (2020). Dampak positif Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang jaminan produk halal dalam menciptakan sistem jaminan produk halal di Indonesia. Syarie: Jurnal Pemikiran Ekonomi Islam, 3(2), 195–210. https://ejournal.ibi.ac.id/Syarie/article/view/204
Atieqoh, S., Fauziah, F., Zuhrah, F., & Warnis, W. (2023). Juleha (halal slaughterer): Between profession and tradition. Proceedings of the International Conference of Islamic Economics and Business (ICONIES), 9(1), 993–1008. https://conferences.uin-malang.ac.id/index.php/iconies/article/view/2275
Beloushi, H. J. E. H. M. (2015). The theory of Maqāṣid Al-Sharīʿa in Shīʿī jurisprudence: Muḥammad Taqī Al-Mudarrisī as a model (Doctoral dissertation). University of Exeter, Exeter, United Kingdom.
Eva Diyah, N., Riyanti, A., & Karim, M. (2022). Implementasi sertifikasi halal pada kuliner UMKM Kecamatan Burneh Kabupaten Bangkalan. SIBATIK Journal: Jurnal Ilmiah Bidang Sosial, Ekonomi, Budaya, Teknologi, dan Pendidikan, 1(12), 2863–2874. https://doi.org/10.54443/sibatik.v1i12.461
Fahrani, N. I., & Faraby, M. E. (2024). Analisis pengelolaan RPH Kota Pamekasan ditinjau dari Keputusan Kepala Badan BPJPH No. 77 Tahun 2023. SANTRI: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam, 2(5), 148–165. https://doi.org/10.61132/santri.v2i5.942
Farhan, M., & Fajar. (2021). Efektivitas peraturan sertifikasi halal bagi pelaku UMKM jamu di Bangkalan. Qawwam: The Leaders Writing, 2(2), 180–188. https://jurnalfuad.org/index.php/qawwam/article/view/108
Fitriyani, A., Nasco, M. Z., & Sirait, P. H. D. (2024). Problematika kewajiban sertifikasi halal bagi usaha mikro, kecil, dan menengah berdasarkan teori Gustav Radbruch. Jurnal BATAVIA, 1(2), 96–103. https://doi.org/10.64578/batavia.v1i2.41
Hasan, M. R., & Abd Latif, M. S. (2024). Towards a holistic halal certification self-declare system: An analysis of Maqasid al-Sharīʿah-based approaches in Indonesia and Malaysia. Mazahib, 23(1), 41–78. https://doi.org/10.21093/mj.v23i1.6529
Irfany, M. I., & Rusydiana, A. S. (2022). Challenges in developing integrated halal industry in Indonesia. Halal Tourism and Pilgrimage, 2(1), 1–12.
Jahangir, H. (2025). Maqāṣid Al-Sharīʿah in classical fiqh literature: A historical approach. Islamic Research Journal (Al-Marsoos), 3(2), 16–28.
Karim, M. (2023). Urgensi penerapan sertifikasi halal pada rumah potong hewan di Kecamatan Manding Kabupaten Sumenep. Jurnal Ekonomi Manajemen, 27, 90–95.
Khairawati, S., Murtiyani, S., Wijiharta, W., Yusanto, I., & Murtadlo, M. B. (2025). Kendala sertifikasi halal pada UMKM di Indonesia: Sebuah kajian literatur [Obstacles to halal certification among MSMEs in Indonesia: A literature review]. Jurnal Akuntansi, Manajemen dan Ilmu Ekonomi (JASMIEN), 5(2), 242–256. https://doi.org/10.54209/jasmien.v5i02.1018
Khoerun, M. (2023, January 19). Kemenag susun pedoman penyembelihan halal bagi rumah pemotongan hewan. Kementerian Agama Republik Indonesia. https://kemenag.go.id/nasional/kemenag-susun-pedoman-penyembelihan-halal-bagi-rumah-pemotongan-hewan-sd2bjf
Lahuri, S. bin, Pranoto, M. R., Kamaluddin, I., Syamsuri, S., Cahyo, E. N., & Yusuf, M. (2025). Halal certification governance in Indonesia: An Islamic legal appraisal based on Maṣlaḥah principles. JURIS (Jurnal Ilmiah Syariah), 24(2), 233–247. https://doi.org/10.31958/juris.v24i2.15411
Listiasari, F. R., Kuntari, W., Hastati, D. Y., & Nuraeni, A. (2024). Sertifikasi halal melalui self declare oleh UMKM untuk mendukung industri wisata halal. Seminar Nasional Pariwisata dan Kewirausahaan (SNPK), 3, 636–646. https://doi.org/10.36441/snpk.vol3.2024.284
Nasrudin, N., & Nursari, N. (2025). Peran sertifikasi halal dalam penguatan industri makanan halal: Instrumen perlindungan konsumen Muslim di Indonesia. Qanuniya: Jurnal Ilmu Hukum, 2(1), 11–22. https://doi.org/10.15575/qanuniya.v2i1.1268
Ningrum, R. T. P. (2022). Problematika kewajiban sertifikasi halal bagi pelaku usaha mikro dan kecil (UMK) di Kabupaten Madiun. Istithmar: Jurnal Studi Ekonomi Syariah, 6(1), 43–58. https://doi.org/10.30762/istithmar.v6i1.30
Orlando, G. (2022). Efektivitas hukum dan fungsi hukum di Indonesia. Tarbiyah bil Qalam, 6(1), 45–58. https://doi.org/10.58822/tbq.v6i1.77
Patricia, T., Gunawan, C., & Selly, J. N. (2025). Kedudukan hukum adat sebagai aturan hukum nasional dalam sistem hukum Indonesia. Lex Librum: Jurnal Ilmu Hukum, 12(1), 11–22. https://doi.org/10.46839/lljih.v12i1.828
Rachmadin, G. P., & Fitria, N. (2024). Implementasi Fatwa MUI Nomor 12 Tahun 2009 tentang standar penyembelihan halal terhadap pemotongan ayam di rumah potong ayam (RPA) Kabupaten Trenggalek. JIS: Journal Islamic Studies, 3(1), 6–14. https://doi.org/10.71456/jis.v2i3.909
Rahmat, W., & Oktavia, L. A. (2024). Urgensi administrasi publik dalam Islam: Tinjauan maslahah mursalah. Jurnal Hadratul Madaniyah, 11(1), 62–68. https://doi.org/10.33084/jhm.v11i1.7578
Rusydiana, A. S., Ruhana, A. S., & As-Salafiyah, A. (2023). Problematika penerapan jaminan produk halal di Indonesia: Analisis tata kelola halal. Harmoni: Jurnal Multikultural & Multireligius, 22(1), 45–60. https://doi.org/10.32488/harmoni.v1i22.572
Sarah. (2022). Efektivitas Undang-Undang Jaminan Produk Halal terhadap industri kecil dan menengah (IKM) di Kalimantan Selatan (Master's thesis, UIN Antasari Banjarmasin, Indonesia). Retrieved from https://idr.uin-antasari.ac.id/20431/
Sinamo, T. N. E. P., Zulyadi, R., & Ramadhan, M. C. (2022). Peran kepolisian dalam penegakan hukum tindak pidana penyelundupan impor pakaian bekas di Kepolisian Daerah Sumatera Utara. Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS), 4(4), 2506–2518. https://doi.org/10.34007/jehss.v4i4.1101
Soekanto, S. (1988). Efektivitas hukum dan pengaturan sanksi. Remadja Karya.
Soekanto, S. (2008). Faktor-faktor yang mempengaruhi penegakan hukum. RajaGrafindo Persada.
Suhartini, E., Hertiani, E., Djuniarsono, R., Rumatiga, H., & PM, N. S. (2024). Analysis of halal certification for micro and small business actors from the perspective of maslahah principles and legal certainty. Al-'Adalah, 21(2), 401–426. https://doi.org/10.24042/adalah.v21i2.23442
Suryanto, D. (2023). Meningkatkan kesadaran hukum masyarakat dalam bermedia sosial sebagai wujud kepatuhan terhadap hukum. BelomBahadat: Jurnal Hukum Agama Hindu, 13(1), 86–90. https://doi.org/10.33363/bb.v13i1.983
Syarifuddin, A. (2011). Ushul fiqh (Vol. 2). Prenada Media Group.
Verawati, H., & Utamie, Z. R. (2025). The concept of maslahah mursalah and its implementation in sustainable Sharia financial literacy in the modern era. Al-Mashrof: Islamic Banking and Finance, 6(1), 19–35. https://doi.org/10.24042/gss72253
Wahid, S. H. (2023). Refleksi budaya hukum pelaku usaha pangan pasca kebijakan sertifikasi halal. At-Tasyri: Jurnal Hukum Islam dan Ekonomi Syariah, 5(1), 42–60. https://doi.org/10.55380/tasyri.v5i01.618
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Anisa Al-azizi, Fahrizi Alfarobi Muhammad, Ahmad Qiram As-suvi, Muhammad Zidan

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.


