Peradaban Journal of Interdisciplinary Educational Research https://jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/pjier <p><strong>Peradaban Journal of Interdisciplinary Educational Research (PJIER)</strong> is a <strong>peer-reviewed academic journal </strong>accredited <strong>SINTA 4 </strong>by the Ministry of Education, Culture, Research, and Technology of the Republic of Indonesia. The journal publishes interdisciplinary research and scholarly articles in the field of education, covering various areas such as educational practices, technology, pedagogy, curriculum, psychology, and sociocultural studies. PJIER is published twice a year, in <strong>February</strong> and <strong>August.</strong></p> en-US pjier@peradabanpublishing.com (Nur Chanifah) pjier@peradabanpublishing.com (Ahmad Wasito) Mon, 31 Aug 2026 00:00:00 +0700 OJS 3.3.0.8 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Multicultural Value Transmission via the Saulak Tradition https://jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/pjier/article/view/1326 <p>This study aims to analyze the process of transmitting multicultural knowledge and values, the forms of community participation, and the sustainability challenges of the Saulak Tradition in Kampung Mandar, Banyuwangi Regency. Utilizing a descriptive qualitative approach, data were gathered through participatory observation, in-depth interviews with key informants (Pasilli, youth, and community leaders), and documentation, analyzed while considering validity through triangulation. The research findings demonstrate that the Saulak Tradition functions as a community-based intergenerational pedagogical space (community-based education). Multicultural knowledge and values are taught through active participation (situated learning) across the ritual proceedings. This study identifies the internalization of democratic values (through deliberative practices), humanism (through mutual cooperation and respect for human dignity), as well as tolerance and pluralism (manifested through the participation of non-Mandarese ethnicities, such as the Javanese and Madurese). Although the sustainability of this value transmission faces challenges from modernization, technological disruption, youth mobility, and religious misunderstandings, it persists due to collective cultural-spiritual bonds. The theoretical implications of this study emphasize that multicultural competence is a community-based capability learned contextually through engagement in meaningful social practices.</p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses pewarisan pengetahuan dan nilai-nilai multikultural, bentuk partisipasi masyarakat, serta tantangan keberlanjutan Tradisi Saulak di Kampung Mandar, Kabupaten Banyuwangi. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan informan kunci (Pasilli, pemuda, dan tokoh masyarakat), serta dokumentasi, yang dianalisis dengan mempertimbangkan keabsahan triangulasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Tradisi Saulak berfungsi sebagai ruang pedagogis intergenerasional berbasis masyarakat (community-based education). Pengetahuan dan nilai multikultural diajarkan melalui partisipasi aktif (situated learning) dalam rangkaian ritual. Studi ini mengidentifikasi terinternalisasinya nilai demokrasi (melalui musyawarah), humanisme (melalui gotong royong dan pemuliaan harkat manusia), serta toleransi dan pluralisme (yang terwujud dari partisipasi etnis non-Mandar seperti Jawa dan Madura). Keberlanjutan transmisi nilai ini dihadapkan pada tantangan modernisasi, disrupsi teknologi, mobilitas pemuda, dan benturan pemahaman keagamaan, tetapi tetap bertahan berkat ikatan kultural-spiritual kolektif. Implikasi teoretis penelitian ini menegaskan bahwa kompetensi multikultural merupakan kapabilitas berbasis komunitas yang dipelajari secara kontekstual melalui keterlibatan dalam praktik sosial bermakna.</p> Badrud Tamam Ulumudin, Virda Hana Maulidya, Maryam Hanna, Qurrota Ayunina, Moh Dadan Wijaya, Cardina Apriliani Copyright (c) 2026 Peradaban Journal of Interdisciplinary Educational Research https://jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/pjier/article/view/1326 Mon, 31 Aug 2026 00:00:00 +0700 Rekonstruksi Konsep Mutu Murid dalam Perspektif Pendidikan Islam https://jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/pjier/article/view/1303 <p><em>The paradigm of student quality in educational practice still tends to focus on academic achievement, cognitive competence, and technical skills, thereby not yet fully accommodating spiritual, moral, and character dimensions as the essential goals of education. This article aims to reconstruct the concept of student quality from an Islamic educational perspective by formulating a conceptual model that integrates faith (iman), knowledge ('ilm), Islamic character (akhlaq), and good deeds ('amal) as indicators of student quality. This study employs a qualitative approach through library research. Data were gathered from the Qur'an, Hadith, classical Islamic educational literature, as well as relevant scientific articles and books published within the last ten years. Data analysis was conducted using content analysis and conceptual synthesis to construct an integrative theoretical framework. The results indicate that student quality in Islamic education is a multidimensional construct built upon four primary dimensions: faith as the spiritual foundation, knowledge as intellectual competence, Islamic character as the manifestation of internalized values, and good deeds as behavioral actualization. Based on this reconstruction, the article proposes a conceptual implementation model through teacher role modeling, religious habits, the integration of character values in learning, an Islamic school culture, school–family–community collaboration, and character evaluation as a quality assurance system. This model enriches the theoretical landscape of Islamic education while providing a conceptual framework for developing a more holistic, integrative student quality assurance system that is relevant to contemporary educational challenges.</em></p> <p>Paradigma mutu murid dalam praktik pendidikan masih cenderung berorientasi pada capaian akademik, kompetensi kognitif, dan keterampilan teknis, sehingga belum sepenuhnya mengakomodasi dimensi spiritual, moral, dan karakter sebagai tujuan hakiki pendidikan. Artikel ini bertujuan merekonstruksi konsep mutu murid dalam perspektif pendidikan Islam dengan merumuskan model konseptual yang mengintegrasikan iman, ilmu, karakter Islami, dan amal sebagai indikator mutu peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (<em>library research</em>). Data diperoleh dari Al-Qur'an, Hadis, literatur klasik pendidikan Islam, serta artikel ilmiah dan buku relevan yang diterbitkan dalam sepuluh tahun terakhir. Analisis data dilakukan melalui analisis isi (<em>content analysis</em>) dan sintesis konseptual untuk membangun kerangka teori yang integratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mutu murid dalam perspektif pendidikan Islam merupakan konstruksi multidimensional yang dibangun atas empat dimensi utama, yaitu iman sebagai fondasi spiritual, ilmu sebagai kompetensi intelektual, karakter Islami sebagai manifestasi internalisasi nilai, dan amal sebagai aktualisasi perilaku. Berdasarkan rekonstruksi tersebut, artikel ini menawarkan model konseptual implementasi mutu murid melalui keteladanan guru, pembiasaan keagamaan, integrasi nilai karakter dalam pembelajaran, budaya sekolah Islami, kolaborasi sekolah–keluarga–masyarakat, serta evaluasi karakter sebagai sistem penjaminan mutu. Model ini memperkaya khazanah teori pendidikan Islam sekaligus memberikan kerangka konseptual bagi pengembangan sistem penjaminan mutu murid yang lebih holistik, integratif, dan relevan dengan tantangan pendidikan kontemporer.</p> Nurwahida Nurwahida, Nursalam Siradjuddin, Andi Aisa, Nurul Hidayati Murtafiah, Samsuddin Samsuddin Copyright (c) 2026 Peradaban Journal of Interdisciplinary Educational Research https://jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/pjier/article/view/1303 Mon, 31 Aug 2026 00:00:00 +0700 Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Islam melalui Pepali Ki Ageng Selo dalam Penguatan Kohesi Sosial Masyarakat https://jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/pjier/article/view/1301 <p><em>The dynamics of the globalized era have the potential to trigger identity crises and weaken social cohesion in society. This condition demands an ethical foundation based on local wisdom capable of maintaining social harmony. This study aims to analyze the educational values of Islam contained in Pepali Ki Ageng Selo, their internalization process, and their contribution to strengthening social cohesion among the community in Selo Village, Tawangharjo District, Grobogan Regency. This study employed a qualitative approach with an ethnographic design. Research subjects were selected through purposive sampling, consisting of the Village Head, Traditional Leaders (juru kunci), Religious Leaders, and local community members. Data were collected through participatory observation, in-depth interviews, and documentation. Data validity was tested using source and method triangulation, while data analysis applied the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña (data reduction, data display, and conclusion drawing/verification). The results indicate that Pepali Ki Ageng Selo contains core Islamic educational values, such as taqwa (godliness), tasamuh (tolerance), ihsan (goodness), and qanaah (contentment). The internalization of these values occurs through exemplary methods (uswatun hasanah), unification of family education, and habituation of customary rituals that do not contradict Islamic law. This internalization serves as a social glue that effectively prevents horizontal conflicts, maximizes solidarity, and strengthens inter-citizen tolerance. These findings confirm that local wisdom based on Islam Nusantara is relevant as a sustainable cultural instrument for building community social cohesion.</em></p> <p>Dinamika era globalisasi berpotensi memicu krisis identitas dan pelemahan kohesi sosial di tengah masyarakat. Kondisi ini menuntut adanya fondasi etis berbasis kearifan lokal yang mampu menjaga keharmonisan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan nilai-nilai pendidikan Islam dalam Pepali Ki Ageng Selo, proses internalisasinya, serta kontribusinya terhadap penguatan kohesi sosial masyarakat di Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnografi. Subjek penelitian ditentukan secara purposive sampling, meliputi Kepala Desa, Tokoh Adat (juru kunci), Tokoh Agama, dan masyarakat setempat. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Keabsahan data diuji menggunakan triangulasi sumber dan metode, sedangkan analisis data menerapkan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña (reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pepali Ki Ageng Selo memuat nilai-nilai pendidikan Islam utama seperti taqwa, tasamuh (toleransi), ihsan, dan qanaah. Internalisasi nilai-nilai tersebut berlangsung melalui metode keteladanan (uswatun hasanah), unifikasi pendidikan keluarga, serta pembiasaan ritual adat yang tidak bertentangan dengan syariat Islam. Internalisasi ini berfungsi sebagai perekat sosial (social glue) yang efektif mencegah konflik horizontal, memaksimalkan solidaritas, dan memperkuat toleransi antarwarga. Temuan ini menegaskan bahwa kearifan lokal berbasis Islam Nusantara relevan dijadikan instrumen kultural yang berkelanjutan dalam membangun kohesi sosial masyarakat.</p> Nur Subhan, Ghufron Hamzah, Fitria Martanti, Jaiz Jamalullael Copyright (c) 2026 Peradaban Journal of Interdisciplinary Educational Research https://jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/pjier/article/view/1301 Tue, 01 Sep 2026 00:00:00 +0700 Formulating the Fiqh of Diversity as a Basis for Peace Education https://jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/pjier/article/view/1310 <p>This study aims to investigate and identify the construction of the <em data-path-to-node="3" data-index-in-node="68">fiqh</em> of diversity (<em data-path-to-node="3" data-index-in-node="87">fikih kebhinnekaan</em>) in Islamic Religious Education (PAI) learning at Universitas Brawijaya. Furthermore, it seeks to examine and analyze the formulation of <em data-path-to-node="3" data-index-in-node="243">fiqh</em> of diversity within PAI learning in fostering attitude of harmony amidst the diverse school of jurisprudence (<em data-path-to-node="3" data-index-in-node="358">madhhab</em>) backgrounds among students. Using a case study approach, data were collected through participant observation, in-depth interviews, and documentation. The findings indicate two key points: First, in the construction of PAI lecturers, <em data-path-to-node="3" data-index-in-node="600">fiqh</em> diversity is viewed as a universal necessity that must be met with tolerance, thereby enabling the effective implementation of peace education through PAI courses. Second, the formulation of <em data-path-to-node="3" data-index-in-node="796">fiqh</em> of diversity education through PAI learning at Universitas Brawijaya is reflected in a curriculum design that avoids any discriminatory elements (<em data-path-to-node="3" data-index-in-node="947">SARA</em>). This curriculum design is grounded in the universal values of Islamic teachings, including the spirits of justice, freedom, humanity, egalitarianism, peace, brotherhood, and compassion. Through the formulation of these values, peace education is successfully cultivated at Universitas Brawijaya. Beyond curriculum design, this formulation is also expressed through the learning materials in the PAI textbook (<em data-path-to-node="3" data-index-in-node="1363">Buku Daras PAI</em>) and the learning evaluation framework, which avoids sectarian bias. The PAI learning evaluation is oriented toward transcending the primordial boundaries of Islamic mass organizations and extra-campus student organizations.</p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengidentifikasi konstruksi fikih kebhinnekaan pada pembelajaran PAI di Universitas Brawijaya. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis formulasi fikih kebhinnekaan pada pembelajaran PAI dalam menumbuhkan sikap harmoni di tengah varian madzhab fikih mahasiswa. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan studi kasus dengan menjadikan observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi sebagai basis teknik pengumpulan datanya. Temuan penelitian ini adalah: <em>Pertama, </em>Dalam konstruksi Dosen PAI, kebhinnekaan fikih merupakan keniscayaan universal yang harus disikapi secara toleran, sehingga pendidikan damai melalui mata kuliah PAI dapat terimplementasi dengan baik. <em>Kedua, </em>formulasi pendidikan fikih kebhinnekaan melalui pembelajaran PAI di Universitas Brawijaya terlihat pada desain kurikulum yang tidak memuat unsur SARA di dalamnya. Desain kurikulum fikih kebhinnekaan didasarkan pada nilai-nilai universalitas ajaran Islam seperti spririt keadilan, kebebasan, kemanusiaan, egalitarianisme, perdamaian, persaudaraan, dan kasih-sayang. Melalui formulasi nilai-nilai tersebut, pendidikan damai di Universitas Brawijaya dapat tersemai dengan baik. Selain desain kurikulum, formulasi pendidikan fikih kebhinnekaan juga diekspresikan dalam bentuk materi-materi yang ada dalam buku Daras PAI. Formulasi fiqih kebhinnekaan juga terekspresi dalam bentuk evaluasi pembelajaran PAI di Universitas Brawijaya yang tidak mengedepankan ego sektarian. Evaluasi pembelajaran PAI tersebut diorientasikan untuk melampaui sekat-sekat primordialitas ormas dan organisasi ekstra kampus.</p> Moh. Anas Kholish, Siti Rohmah, Nur Chanifah, Aditya Putra Harwanto, Anisa Al-Azizi Copyright (c) 2026 Peradaban Journal of Interdisciplinary Educational Research https://jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/pjier/article/view/1310 Thu, 03 Sep 2026 00:00:00 +0700 Women's Higher Education in Rural Areas https://jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/pjier/article/view/1332 <p>Higher education is a vital instrument for women’s empowerment and independence; however, access for rural women remains constrained by complex structural and cultural barriers. This study aims to analyze how the community of Tamansari Village, Banyuwangi, perceives the importance of higher education for women; examine the interplay among social norms, economic limitations, and family backgrounds in shaping educational aspirations and access opportunities; and evaluate the role of scholarship support as an enabling factor. Employing a descriptive qualitative approach, data were gathered through in-depth interviews, observations, and documentation involving parents, rural women, and community figures. The findings reveal an ambivalent community perception. On the one hand, a positive perspective views educated women as the primary educators (<em>madrasah utama</em>) within the family and agents of economic self-reliance. On the other hand, skepticism persists due to patriarchal norms, gender-biased family resource allocation, and the perceived high cost of higher education. Nevertheless, low parental educational attainment does not dampen aspirations but rather acts as a catalyst for intergenerational mobility. The availability of scholarships serves as a critical game-changer that not only alleviates financial burdens but also actively reconstructs collective social norms. This study concludes that targeted financial interventions combined with familial support can effectively bridge the gap between educational aspirations and actual access for women in rural communities.</p> <p class="ISI">Pendidikan tinggi merupakan instrumen penting bagi pembebasan dan kemandirian perempuan, namun akses perempuan di pedesaan masih menghadapi hambatan struktural dan kultural yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana masyarakat Desa Tamansari, Banyuwangi, memaknai pentingnya pendidikan tinggi bagi perempuan; mengurai interaksi antara norma sosial, keterbatasan ekonomi, dan latar belakang keluarga dalam membentuk aspirasi serta peluang akses; serta mengevaluasi peran dukungan beasiswa sebagai faktor pemungkin (<em>enabler</em>). Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap orang tua, perempuan desa, dan tokoh masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemaknaan masyarakat bersifat ambivalen. Di satu sisi, timbul persepsi positif yang memandang perempuan terdidik sebagai <em>madrasah utama</em> dan agen kemandirian ekonomi; di sisi lain, muncul keraguan akibat norma patriarki, bias gender alokasi keluarga, dan anggapan biaya perkuliahan yang mahal. Meskipun demikian, latar belakang pendidikan orang tua yang rendah tidak memadamkan aspirasi, melainkan menjadi pemicu dorongan antargenerasi. Hadirnya program beasiswa terbukti menjadi pengubah pandangan (<em>game changer</em>) yang tidak hanya mereduksi beban finansial keluarga, tetapi juga merekonstruksi norma sosial kolektif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa intervensi finansial yang terarah dan dukungan moral keluarga mampu menjembatani celah antara aspirasi pendidikan dan realisasi akses nyata bagi perempuan di pedesaan.</p> Sandra Ginawangi Nasution, Moch. Fasihuddin Al Hafidi, Aris Risnandar, Wahyui Yuha, Intan Amelia Putri, Siti Sivaul Jannah Copyright (c) 2026 Peradaban Journal of Interdisciplinary Educational Research https://jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/pjier/article/view/1332 Tue, 08 Sep 2026 00:00:00 +0700