Peradaban Journal of Religion and Society https://jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/PJRS <p><strong><span data-preserver-spaces="true">Peradaban Journal of Religion and Society (PJRS)</span></strong><span data-preserver-spaces="true"> is a peer-reviewed electronic journal published by Pustaka Peradaban in collaboration with Pojok Peradaban Institute for the Study of Religion and Society. <strong>PJRS </strong></span><span data-preserver-spaces="true">provides a forum for all disciplines related to the study of religion and social fields. </span><strong><span data-preserver-spaces="true">PJRS</span></strong><span data-preserver-spaces="true"> is Published twice a year, in </span><strong><span data-preserver-spaces="true">July</span></strong><span data-preserver-spaces="true"> and </span><strong><span data-preserver-spaces="true">January</span></strong><span data-preserver-spaces="true">.</span></p> en-US kholishmuhamad85@gmail.com (Moh. Anas Kholish) pjrs@peradabanpublishing.com (Ahmad Wasito) Mon, 19 Jan 2026 14:55:16 +0700 OJS 3.3.0.8 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Sakralitas, Komoditas, dan Konflik: Perdagangan Cendana dan Penyebaran Agama-Agama di Nusa Tenggara Timur https://jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/PJRS/article/view/771 <p><em>This study examines the intersection of sacredness, commodity value, and conflict in the sandalwood trade and its influence on the spread of Islam, Catholicism, and Protestantism in East Nusa Tenggara (NTT). Historically regarded as a sacred material in local traditions and global religious practices, sandalwood became a highly valued commodity in Asian and European trade networks from the tenth to the seventeenth century. The fusion of ritual significance and economic value generated contestation among local elites, Muslim traders, and colonial powers such as the Portuguese and the Dutch, each seeking control over this strategic resource. Previous studies largely emphasize political-economic aspects, while research on the role of sandalwood in shaping religious dynamics remains limited. Using a qualitative-historical approach and Johan Galtung’s theoretical framework, this study analyzes forms of structural and cultural violence, as well as the competing interests embedded in the sandalwood trade. The findings indicate that sandalwood facilitated the entry and growth of Islam through commercial interactions, while the spread of Catholicism and Protestantism was strengthened by colonial political agendas. This study argues that the commodification of sandalwood not only structured economic and political relations but also significantly influenced patterns of social interaction and religious transformation in NTT.</em></p> <p>Penelitian ini mengkaji hubungan antara sakralitas, komoditas, dan konflik dalam perdagangan cendana serta pengaruhnya terhadap penyebaran Islam, Katolik, dan Protestan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Cendana, yang secara historis memiliki nilai ritual dalam tradisi lokal dan agama-agama dunia, sejak abad ke-10 hingga ke-17 berkembang menjadi komoditas yang sangat bernilai dalam jaringan perdagangan Asia dan Eropa. Perpaduan nilai sakral dan ekonomi ini memicu kontestasi antara elit lokal, pedagang Muslim, serta kekuatan kolonial Portugis dan Belanda yang berupaya menguasai sumber daya strategis tersebut. Penelitian terdahulu umumnya berfokus pada aspek ekonomi-politik, sedangkan kajian mengenai peran cendana dalam dinamika keagamaan masih terbatas. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-historis dan kerangka teori Johan Galtung, penelitian ini menganalisis bentuk kekerasan struktural dan kultural serta kontradiksi kepentingan yang muncul dari penguasaan cendana. Temuan penelitian menunjukkan bahwa perdagangan cendana menjadi medium penting dalam masuk dan berkembangnya Islam melalui hubungan dagang, sementara penyebaran Katolik dan Protestan diperkuat oleh dukungan politik kolonial. Studi ini menegaskan bahwa komodifikasi cendana tidak hanya membentuk struktur ekonomi-politik, tetapi juga memengaruhi pola interaksi dan transformasi keagamaan di NTT.</p> Maulidia Dhuryati Piala Bora , Najamudin M . Lobang Copyright (c) 2026 Maulidia Dhuryati Piala Bora , Najamudin M . Lobang https://jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/PJRS/article/view/771 Mon, 19 Jan 2026 00:00:00 +0700 Kerangka Teologis Islamic Social Finance untuk Mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) https://jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/PJRS/article/view/739 <p><em>This study aims to formulate a theological-functional framework of Islamic Social Finance (ISF) in supporting the Sustainable Development Goals (SDGs) through a Tafsir Maudu’i (thematic exegesis) approach to Surah At-Taubah: 60 and Surah Al-Baqarah: 267. This qualitative research identifies and synthesizes the normative principles of the Qur'an to bridge the gap between the potential of Islamic philanthropic resources and the financing needs of sustainable development. The key findings indicate that two normative pillars of the Qur'an provide an explicit mandate for this integration. The Distribution Structure Pilla<strong data-path-to-node="2" data-index-in-node="595">r</strong> (QS. At-Taubah: 60) transforms Zakat into a productive empowerment instrument that directly supports SDG 1 (No Poverty) and SDG 4 (Quality Education). The Financing Quality Pillar (QS. Al-Baqarah: 267) provides ethical and managerial justification for long-term investment through Waqf and Infaq, directed toward sustainable infrastructure funding, transparent governance, and environmental issues (SDGs 3, 7, 13, 16). Philosophically, this integration demonstrates the alignment of Maqasid Syariah with universal development goals. The study concludes that ISF has significant potential to be a stable, directed, and ethical driving force in achieving the 2030 Sustainable Development Agenda. The institutional transformation of ISF, through the adoption of dual performance indicators (Sharia metrics and SDG impact metrics), is key to ensuring that ZISWAF funds generate measurable social and environmental impacts.</em></p> <p>Penelitian ini bertujuan merumuskan kerangka teologis-fungsional Islamic Social Finance (ISF) dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) melalui pendekatan Tafsir Maudu’i terhadap QS. At-Taubah: 60 dan QS. Al-Baqarah: 267. Penelitian kualitatif ini mengidentifikasi dan mensintesis prinsip-prinsip normatif Al-Qur’an untuk mengatasi kesenjangan antara potensi sumber daya filantropi Islam dan kebutuhan pendanaan pembangunan berkelanjutan. Temuan kunci menunjukkan bahwa dua pilar normatif Al-Qur’an menyediakan mandat eksplisit untuk integrasi ini. Pilar Struktur Distribusi (QS. At-Taubah: 60) mentransformasi Zakat menjadi instrumen pemberdayaan produktif yang secara langsung mendukung target SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) dan SDG 4 (Pendidikan). Pilar Kualitas Pendanaan (QS. Al-Baqarah: 267) memberikan justifikasi etis dan manajerial bagi investasi jangka panjang melalui Wakaf dan Infak, yang diarahkan untuk pendanaan infrastruktur berkelanjutan, tata kelola transparan, dan isu lingkungan (SDG 3, 7, 13, 16). Secara filosofis, integrasi ini menunjukkan keselarasan Maqasid Syariah dengan tujuan pembangunan universal. Penelitian menyimpulkan bahwa ISF memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan pendorong yang stabil dan etis dalam mencapai Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030. Transformasi kelembagaan ISF, melalui adopsi indikator kinerja ganda (Syariah dan metrik dampak SDGs), adalah kunci untuk memastikan dana ZISWAF menghasilkan dampak sosial dan lingkungan yang terukur.</p> Muhammad Zainudin, Muhammad Ibnu Akbar Nuryadi, Ahmad Djalaluddin Copyright (c) 2026 Muhammad Zainudin, Muhammad Ibnu Akbar Nuryadi, Ahmad Djalaluddin https://jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/PJRS/article/view/739 Mon, 19 Jan 2026 00:00:00 +0700 Dehumanisasi dan Krisis Spiritualitas di Media Sosial https://jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/PJRS/article/view/716 <p style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"> </p> <p><em>This study examines Surah al-Ḥujurāt verse 11 through an analysis of Quraish Shihab’s interpretation in Tafsir al-Mishbah to critically understand the phenomena of dehumanization and the crisis of spirituality in social media. In contrast to previous studies that tend to focus on normative social ethics or thematic analyses without deeply engaging with digital communication practices, this research offers a conceptual enrichment through a hermeneutical approach that connects the textual horizon, the interpretive process, and contemporary digital realities. Employing a qualitative library-based method, the study analyzes the structure of exegetical argumentation and its ethical-spiritual implications for online interaction. The findings indicate that the verse provides a value framework that functions transformatively in shaping social relations, particularly within digital spaces prone to bullying, hate speech, labeling, and polarization. Quraish Shihab’s interpretation emphasizes the importance of self-discipline, moral sensitivity, and public responsibility as guiding principles of communication. The hermeneutical refinement in this study demonstrates an operational linkage between Qur’anic messages and digital phenomena, ensuring that ethical prohibitions do not remain merely normative but serve as critical guidelines for fostering a more humane culture of interaction. The primary contribution of this study lies in formulating a framework of “Qur’anic digital ethics,” which expands the discourse on Islamic digital literacy while offering a conceptual basis for addressing dehumanization and the crisis of spirituality in the era of social media.</em></p> <p>Studi ini mengkaji Surah al-Ḥujurāt ayat 11 melalui pembacaan atas penafsiran Quraish Shihab dalam <em>Tafsir al-Mishbah</em> untuk memahami secara kritis gejala dehumanisasi dan krisis spiritualitas di media sosial. Dibandingkan penelitian sebelumnya yang lebih berhenti pada uraian etika sosial atau analisis tematik tanpa menghubungkannya secara mendalam dengan praktik komunikasi digital, penelitian ini menawarkan pengayaan konseptual melalui pendekatan hermeneutik yang menautkan horizon teks, proses penafsiran, dan realitas digital kontemporer. Metode yang digunakan adalah kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan analisis terhadap bangunan argumentasi tafsir serta implikasi etik-spiritualnya bagi interaksi daring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayat tersebut menghadirkan kerangka nilai yang bekerja secara transformatif dalam menata relasi sosial, terutama pada ruang digital yang rentan terhadap praktik perundungan, ujaran kebencian, pelabelan, dan polarisasi. Penafsiran Quraish Shihab menegaskan pentingnya disiplin diri, kepekaan moral, dan tanggung jawab publik sebagai orientasi komunikasi. Penajaman hermeneutik dalam penelitian ini memperlihatkan keterkaitan operasional antara pesan Qur’ani dan fenomena digital, sehingga larangan etis tidak berhenti pada level normatif, tetapi berfungsi sebagai pedoman kritis untuk membangun budaya interaksi yang lebih manusiawi. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada perumusan kerangka “akhlak digital Qur’ani” yang dapat memperluas diskursus literasi digital keislaman sekaligus menawarkan basis konseptual untuk merespons dehumanisasi dan krisis spiritualitas pada era media sosial.</p> M. Rizkhan Arsyi, M. Rama Haqiqi, M. Mubinullah, Nurusshobah Nurusshobah Copyright (c) 2026 M. Rizkhan Arsyi, M. Rama Haqiqi, M. Mubinullah, Nurusshobah Nurusshobah https://jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/PJRS/article/view/716 Mon, 19 Jan 2026 00:00:00 +0700 Nilai-Nilai Ulil Albab sebagai Fondasi Generasi Emas https://jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/PJRS/article/view/521 <p><em>This article examines the concept of Ulil Albab in the Qur’an and its relevance as a foundation for Islamic education in responding to the challenges of the contemporary digital era. Amid rapid technological disruption, the formation of human resources who possess not only intellectual competence but also spiritual depth and moral integrity has become increasingly urgent. Employing a descriptive qualitative approach based on library research, this study analyzes QS. Ali ‘Imran (3): 190–194 through the interpretive framework of Ibn Katsir’s Tafsir. The analysis focuses on identifying the core characteristics of Ulil Albab and their educational implications. The findings indicate that education grounded in the values of Ulil Albab is structured upon the integration of dhikr (remembrance of God), fikr (critical reflection), and amal ṣāliḥ (righteous action); the centrality of tawḥīd; a balanced development of spiritual, intellectual, and social dimensions; a commitment to knowledge and wisdom; and adherence to truth and noble character. The study further demonstrates that the implementation of these values in education requires character-based learning, an integrative curriculum, active pedagogical strategies, the role of teachers as murabbī, and collaboration across educational environments. This research contributes to Islamic educational discourse by offering a Qur’anic value-based framework for cultivating a holistic and ethically grounded generation capable of navigating the complexities of the digital age.</em></p> <p>Artikel ini mengkaji konsep Ulil Albab dalam Al-Qur’an serta relevansinya sebagai fondasi pendidikan Islam dalam merespons tantangan era digital kontemporer. Di tengah pesatnya disrupsi teknologi, pembentukan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan integritas moral menjadi kebutuhan yang semakin mendesak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi kepustakaan dengan menganalisis QS. Ali ‘Imran (3): 190–194 melalui kerangka penafsiran Ibn Katsir. Analisis difokuskan pada identifikasi karakteristik utama Ulil Albab dan implikasinya bagi pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan berbasis nilai-nilai Ulil Albab dibangun atas integrasi <em>dzikr </em>(mengingat Allah), <em>fikr </em>(refleksi kritis), dan amal saleh; penguatan nilai <em>tauhid</em>; keseimbangan antara dimensi spiritual, intelektual, dan sosial; kecintaan terhadap ilmu dan hikmah; serta komitmen terhadap kebenaran dan akhlak mulia. Penelitian ini juga menegaskan bahwa implementasi nilai-nilai tersebut dalam pendidikan menuntut penguatan pendidikan karakter, pengembangan kurikulum integratif, penerapan metode pembelajaran aktif, peran pendidik sebagai murabbi, serta sinergi antarlingkungan pendidikan. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi konseptual bagi pengembangan pendidikan Islam berbasis nilai Qur’ani guna membentuk generasi yang unggul secara holistik dan adaptif terhadap perubahan zaman.</p> Mellani Putri Rahayu Buwono, Dzulkifli Hadi Imawan Copyright (c) 2026 Mellani Putri Rahayu Buwono, Dzulkifli Hadi Imawan https://jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/PJRS/article/view/521 Mon, 19 Jan 2026 00:00:00 +0700 Social Transformation in AI-Driven Digital Ta’aruf https://jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/PJRS/article/view/695 <p>The development of digital technology, especially artificial intelligence, has triggered significant social changes, including in the mechanism of ta'aruf which can now be carried out online through special platforms. This article analyzes the Islamic family law response to the transformation of AI-based ta’aruf practices, focusing on the Muzz app as a representation of a modern introductory platform. This research uses a literature study method that examines the literature on Islamic family law, digital technology, and AI. The findings of the study indicate that the application of sharia values, especially <em>maqasid al-shari’ah</em>, is a crucial foundation in the development of safe and ethical digital ta’aruf practices, as well as being adaptable to various other digital ta’aruf platforms. In this context, <em>hifz al-‘ird</em> encourages strong identity verification to prevent data manipulation; <em>Hifz al-Din</em> demands good communication manners and seriousness of intention; while <em>Hifz al-Nafs</em> requires protection from the risk of cybercrime through adequate data security. AI technology can strengthen these mechanisms through AI-based identity verification, behavioral anomaly detection, and automated moderation. The implications of this study confirm the need for fiqh guidelines for online interaction, sharia standards for the <em>nadhar</em> mechanism and guardian involvement, application certification according to sharia principles, and pre-marital data protection regulations.</p> <p data-path-to-node="2"><em>Perkembangan teknologi digital, khususnya kecerdasan buatan (AI), telah memicu perubahan sosial yang signifikan, termasuk dalam mekanisme ta'aruf yang kini dapat dilakukan secara daring melalui platform khusus. Artikel ini menganalisis respons hukum keluarga Islam terhadap transformasi praktik ta'aruf berbasis AI, dengan fokus pada aplikasi Muzz sebagai representasi platform perkenalan modern. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka yang mengkaji literatur tentang hukum keluarga Islam, teknologi digital, dan AI. Temuan studi menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai syariah, khususnya maqasid al-shari’ah, merupakan fondasi krusial dalam pengembangan praktik ta'aruf digital yang aman dan etis, serta dapat diadaptasikan ke berbagai platform ta'aruf digital lainnya. Dalam konteks ini, hifz al-‘ird mendorong verifikasi identitas yang kuat untuk mencegah manipulasi data; hifz al-din menuntut tata krama komunikasi yang baik dan keseriusan niat; sementara hifz al-nafs memerlukan perlindungan dari risiko kejahatan siber melalui keamanan data yang memadai. Teknologi AI dapat memperkuat mekanisme ini melalui verifikasi identitas berbasis AI, deteksi anomali perilaku, dan moderasi otomatis. Implikasi dari studi ini mengonfirmasi perlunya pedoman fikih untuk interaksi daring, standar syariah untuk mekanisme nadhar dan keterlibatan wali, sertifikasi aplikasi sesuai prinsip syariah, serta regulasi perlindungan data pra-nikah.</em></p> Mufatihatuttaubah Rorom Ika Putri Copyright (c) 2026 Mufatihatuttaubah Rorom Ika Putri https://jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/PJRS/article/view/695 Mon, 19 Jan 2026 00:00:00 +0700